c

Transportasi
merupakan sebuah sarana yang digunakan oleh umat manusia untuk berpindah dari
suatu tempat ke tempat lainnya. Pada zaman dahulu kala, manusia memanfaatkan
tenaga hewan seperti kuda, unta dan keledai untuk memudahkan mobilisasi mereka.
Seiring perkembangan zaman, model transportasi manusia semakin modern. Manusia
mulai mengenal kendaraan bermotor ketika mereka membutuhkan sarana mobilitas
yang lebih efektif dan efisien karena pemicu dengan bertambahnya jumlah
penduduk serta kebutuhan akan sandang pangan. Era sekarang yang juga dikenal
sebagai era digital, mobilitas manusia semakin massif yang kemudian memunculkan
salah satu inovasi disruptif yang dikenal sebagai peradaban Uber atau
transportasi online. Selain sesuai dengan eranya, transportasi online
menawarkan keunggulan untuk mengurangi volume kendaraan pribadi, harga yang
relatif lebih terjangkau mengingat negara-negara maju pun menggunakan kendaraan
umum, yang dengan demikian transportasi online mudah masuk mendisrupsi, hal ini
dapat ditinjau melalui merosotnya pendapatan moda transportasi konvensional[1]

 Di Indonesia sendiri transportasi online cukup
memberikan warna baru kepada model kendaraan umum yang telah lama ada di setiap
sudut kota, dan justru terkadang tidak menjadikan solusi bagi mobilitas
aktivitas masyarakat. Munculnya bisnis-bisnis startup ini menjadi pemprakarsa
hadirnya transportasi online; darisitu muncul penggolongan Transportasi Online
dengan Transportasi Konvensional. Melihat keadaan tersebut tentu patut
dipertanyakan kembali mengapa layanan transportasi online dapat menjadi tren
bagi mobilitas masyarakat modern saat ini.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

II. PEMBAHASAN

            Hadirnya transportasi
online dianggap menjadi bentuk dari ketidakpuasan masyarakat akan pelayanan
transportasi konvensional. Berkaca dari konsep penggunaannya, transportasi
online menjadi moda yang mudah diterima masyarakat sehingga secara tidak
langsung membuat eksistensi penggunaan angkutan umum konvensional semakin
menurun. Transportasi online pula hadir dengan kemasan baru, mampu mendongkrak
tingkat mobilitas dan perekonomian masyarakat. Namun yang menjadi masalah
disini ialah adanya ketidaksiapan sebagian masyarakat akan perubahan budaya
yang sangat vertikal juga ketidaksiapan pemerintah dalam mengatasi fonemena
tersebut. Perlu diketahui bahwa konsep layanan transportasi berbasis online
sudah ada sejak lama dengan pionirnya ‘UBER’ sebagai startup pertama yang
menghadirkan layanan transportasi dengan menghubungkan langsung antara driver dengan customer[2].

 Lalu bagaimana reaksi pemerintah terhadap isu
transportasi online? Sejauh ini melihat dari fenomena yang terjadi di Amerika
Serikat tidak ada tindakan responsif dari pemerintah terkait hal tersebut.
Pemerintah dinilai lamban dalam mengatasi isu transportasi online, yang tidak
seharusnya penetapan regulasi dilakukan setelah masalah transportasi online
mencapai puncaknya. Hal ini menjadikan penyakit latah bagi pemerintah dikala
muncul problematika di setiap situasi yang ada. Sebagai bukti lain ialah kasus
mewabahnya berita hoax di Indonesia sehingga menimbulkan aksi anarki dari
masyarakat[3].
Hal yang sama juga terjadi terhadap pemerintahan Indonesia. Jika dibandingkan
lagi dengan transportasi konvensional memang transportasi berbasis online ini
tidak memenuhi syarat-syarat sama sekali untuk memenuhi standar sebagai
angkutan umum. Namun jika pencabutan terhadap pemberian izin diberlakukan,
dirasa bukan sebuah tindakan yang tepat karena sama saja kita menolak untuk menuju
perubahan yang lebih baik. Melihat dari sisi positifnya penggunaan yang praktis
serta biaya yang murah[4]
tentu transportasi online lebih unggul dibandingkan dengan transportasi
konvensional. Artinya adalah keadaan perekonomian Indonesia menuju babak baru
sebagai negara berkembang, transformasi yang begitu cepat dan serba instan,
melahirkan platform terbaru yang
mampu menghubungkan langsung antara produsen dengan konsumen. III. PENUTUP

            Pemberian izin terhadap transportasi
online seyogyanya turut memperhatikan aspek-aspek lain seperti bagaimana
pengelola bisnis startup mengelola bisnisnya. Pemerintah sebagai regulator
hendaknya mengerti bagaimana kondisi sebenarnya tiap-tiap perusahaan startup.
Diperlukan pula regulasi seperti penetapan tarif yang seimbang juga status
mitra bagi pengemudi transportasi online. Disamping itu masih banyak yang perlu
dibenahi bagi perusahaan transportasi online seperti proses perekrutan, masalah
kualitas pelayanan serta jaminan keselamatan kerja bagi para mitranya. Lalu
bagi pemerintah adalah sikap tanggap yang perlu ditingkatkan dan menjamin serta
mengkoreksi pranata-pranata yang telah dibuat untuk menciptakan keadilan
bersama.