c

Transportasi sudah ada sejak zaman
prasejarah, lebih tepatnya pada zaman paleolitikum (zaman batu tua). Pada zaman
itu mereka berpindah pindah tempat (nomaden) karena tidak mempunyai tempat
tinggal yang tetap. Metode transportasi pada saat itu hanyalah berjalan kaki
dan berenang. Seiring berjalannya waktu, hewan menjadi salah satu alat
trasnportasi. Karena perkembangan zaman, manusia membutuhkan kecepatan dan
kapasitas dalam transportasi yang merupakan awal mula terbentuknya berbagai
jenis transportasi, seperti becak, sepeda, mobil, kereta, dan sebagainya.

 

Sekarang kita sudah memasuki zaman
era modern, dimana hampir semua yang kita lakukan akan berhubungan dengan
teknologi. Salah satu contoh yang dapat kita ambil ialah GPS (The Global Positioning System) dengan
menggunakan sistem ini kita bisa lebih mudah untuk mencari sebuah lokasi yang
ingin kita tuju. Tidak hanya itu saja, contoh lain yang dapat kita ambil ialah
transportasi online. Di Indonesia
transportasi berbasis online ini
sudah dirintis sejak tahun 2011, hanya saja baru melesat setelah adanya
aplikasi tersebut di Android dan iOS pada awal tahun 2015.[1]
Transportasi online yang ada di
Indonesia ini cukup beragam yaitu Go-Jek,
Bajaj App, Transjek, dan masih banyak lagi. Dengan adanya transportasi online, masyarakat menjadi tidak sulit
bila ingin berpergian, dan akan lebih merasa aman karena berada dibawah pemantauan
perusahaan.  Bukan hanya itu, di dalam
aplikasi tansportasi online terdapat
beragam pilihan misalnya kita ambil satu aplikasi yaitu Go-Jek yang di dalamnya terdapat Go-Bike, Go-Food,
Go-Send, dan lainnya. Dapat kita lihat di daerah Kebayoran Lama transportasi
online yang lebih sering dipakai ialah Go-jek,
Uber, dan Grab. Selain itu pengguna tranportasi online tidak hanya digunakan oleh kalangan remaja saja, melainkan
orang tua serta anak-anak.

 

Terbentuknya transportasi online sangatlah membantu masyarakat
setempat dan juga memudahkan para pengendara transportasi online dalam mencari nafkah, tetapi tidak bagi pengendara
transportasi konvensional dimana mata
pencahariannya menjadi sangat terbatas akibat munculnya transportasi online ini. Maka dari itu saya membuat essay ini dengan tujuan untuk mengetahui
pandangan masyarakat setempat terhadap penggunaan transportasi online.

 

Dengan adanya transportasi online ini
diharapkan agar populasi kendaraan yang dipakai dapat berkurang untuk
menghindari kemacetan, apakah permasalahan ini berkurang atau makin bertambah,
dan apa yang diharapkan transportasi online
dan konvesional kepada pemerintah kedepannya. Pertanyaan pertanyaan
tersebut akan menjadi pokok pembahasan.

 

Kemacetan masih saja terjadi karena
semakin banyak yang berhenti dipinggir jalan untuk menunggu penumpang, terutama
di Stasiun Kebayoran Lama. Selain itu transportasi online ini sangatlah membantu masyarakat karena mudah dan murah
dibandingkan dengan konvensional. Keuntungan menjadi driver ojek online ialah
dari pemasokannya, menambah wawasan, mempunyai banyak teman, dan yang paling
penting ialah memahami karakter orang. Sedangkan kekurangannya, ada beberapa
tempat seperti di Stasiun Kebayoran Lama ataupun Mall yang tidak mempunyai tempat khusus untuk menunggu penumpang.
Selain itu, jika terjadi kecelakan ataupun sesuatu hal yang terjadi kepada driver tidak ada pertolongan dari
perusahaan. Saya berharap pemerintah segera membuat kebijakan untuk memberi
pengesahan kepada transportasi online,
dan juga menstabilkan argonya.  (Hilmi,
wawancara personal, 2017)

 

Semenjak adanya transportasi online kemacetan di Kebayoran Lama
meningkat akibat tidak adanya pembatasan pengemudi dalam penerimaan
transportasi online. Maksudnya jika
hari itu daftar, besoknya dia bisa langsung bekerja. Tidak seperti taksi
konvensional yang harus mengikut beberapa kali tes, dan kelengkapan suratpun
sangat diperhitungkan, tidak seperti transportasi online yang hanya modal STNK. Munculnya transportasi online sangat menjatuhkan transportasi
konvesional karena penumpang diperkirakan turun 90%. Tidak hanya itu jarak
pengantaran trasnportasi konvensional sangatlah terbatas. Jika sudah melewati
jalur, kita harus membayar biaya tambahan sedangkan transportasi online tidak. Harapan  saya kepada kebijakan pemerintah ialah
jalankan peraturan dengan sangat adil, supaya tidak ada yang merasa dirugikan. Padahal
sejak awal Indonesia sudah mempunyai kebijakan bahwa pengemudi dilarang untuk
menggunakan Handphone saat berkendara,
tapi kebijakan itu saja tidak dapat dilaksanakan. Bagaimana saya mau berharap
yang lain.  (Janson Nenggolan, wawancara
personal, 2017)

 

Setelah munculnya transportasi online kemacetanpun berkurang karena
sebagian masayarakat tidak menggunakan kendaraan pribadi, melainkan transportasi
online, tetapi volume kendaraannya
tetap bertambah. Di dalam keseharian transportasi online sangatlah membantu karena mudah, cepat, praktis, dan murah.
Perbedaan harga yang cukup jauh ini merupakan hambatan bagi transportasi
konvensional untuk bersaing dengan transportasi online. (Aditya Dewata, wawancara personal, 2017)

 

Dapat kita simpulkan dari ketiga
narasumber ini bahwa, dengan adanya 
transportasi online sebagian
orang merasa kemacetan tetap terjadi karena tidak dibatasinya pengendara,
selain itu banyaknya pengendara yang berhenti di pinggir jalan. Transportasi online sangat menguntungkan bagi
masyarakat dan juga pengendara itu sendiri, tetapi sangat merugikan bagi para
pengendara transportasi konvensional karena sebagian penumpang mereka beralih
untuk menggunakan transportasi online. Harapan transportasi online kepada kebijakan pemerintah ialah
segera mengesahkan dan juga menstabilkan harga argo agar tidak menguntungkan
disatu pihak. Selain itu, harapan transportasi konvensional terhadap kebijakan pemeritnah
ialah jalani peraturan dengan benar, dan berlaku adil.